PENTING!! Mau Uang Non stop Masuk ke rekening Anda. Anda bisa download ebooknya, GRATIS. Pada link dibawah. Panduan Uang NonStop.

Senin, 05 Oktober 2009

Pengacara KPK Adukan SMS Ancaman ke Kapolri Pukul 14.00 WIB

Didit Tri Kertapati - detikNews
Tim pegacara KPK akan menemui Kapolri Jenderal Bambang Hendarso Danuri pukul 14.00 WIB. Mereka akan melaporkan adanya SMS ancaman yang diterima penyidik KPK.

"Nanti kita lapor ke Kapolri pukul 14.00 WIB," kata penasihat hukum KPK Ahmad Rifai pada pers di Mabes Polri, Jl Trunojoyo, Jakarta, Senin (5/10/2009).

Rifai menyatakan, dia akan mengadukan SMS yang mengancam mengkriminalisasi tim penyidik KPK. Selain itu juga mengenai penetapan DPO Anggoro Widjojo pernah diungkapkan oleh KPK kepada Kabareskrim dan Kapolda se-Indonesia.

"Laporannya tentang SMS dan DPO yang pernah diserahkan oleh KPK," jelasnya.

Saat ditelepon detikcom sebelumnya, Rifai menyatakan pengacara KPK akan melaporkan 3 hal kepada Kapolri dan Presiden yaitu SMS ancaman dan penetapan DPO Anggoro Widjojo dan surat cekal Anggoro.

KPK mengaku tidak pernah mencabut cekal Anggoro. Untuk itu, laporan dimaksudkan agar polisi menyidik mengenai kebenaran hal tersebut.

(nov/nrl)

sumber :www.detik.com

Kamis, 06 Agustus 2009

MENGENANG KEPERGIAN MBAH SURIP

Pada saat sekarang ini siapa yang tidak mengenal mbah Surip. Pemilik namas asli Urip Ariyanto ini, merupakan sosok yang fenomenal sekaligus nyentrik. Lirik lagu yang dibawakan begitu ringan, simpel dan sederhana. Penampilan regge-nya tentu identik dengan dirinya. Begitu juga warna musik yang dibawakannya.

Saat di puncak ketenarannya, justru mbah Surip harus meninggalkan proses perjuangan yang di alaminya dalam dunia seni. Pada usianya yang 60 tahun, kita semua harus kehilangan pribadi nyentrik dan sederhana ini.

Ada yang menarik dari mbah Surip. Alasan ini pula yang membuat saya menulis. Alasan yang patut untuk di renungkan dan menjadi inspirasi agar kita tetap menjadi diri sendiri dan tetap memperhatikan lingkungan sekitar kita.

Booming lagu Tak Gendong, telah membuat mbah Surip menjadi seorang milyarder baru di Indonesia. Meski begitu, perjuangan mbah Surip di dunia seni tidaklah pendek apalagi sampai instan. Ia terus berkarya dan menikmati dunia seni dengan penuh penghayatan yang dalam. Konon, karena begitu menikmati seni mbah Surip dengan mudah dan cepat dapat membuat sebuah syair dan lirik lagu dengan bantuan gitar tuanya.

Secara finansial mungkin mbah Surip telah berubah. Tapi saya memperhatikan sosok mbah Surip tidaklah berubah. Ia tetap menjadi dirinya sendiri. Menyukai kopi, lebih senang mengendarai motor, gitar sederhana, dan tidak berusaha menjaga gengsinya. Tampilan apa adanya dan natural. Ternyata mbah Surip pun memiliki kebiasaan menginap di rumah teman, kerabat dan saudaranya. Ini semua menunjukan bahwa mbah Surip adalah sosok pribadi yang tetap menjaga diri agar tetap menjadi dirinya sendiri.

Mengapa saya selalu mengatakan menjadi dirinya sendiri? Karena memang banyak di antara kita yang sudah tidak lagi menjadi dirinya sendiri. Berusaha memasuki kehidupan yang lain. Yang belum tentu baik dan sesuai dengan keadaannya. Tapi inilah yang menjadi realitas kehidupan masyarakat kita. Tidak percaya…

Hal sederhana adalah masalah gaya hidup. Di sadari atau tidak, kita selalu mengusahakan diri kita bisa mengikuti gaya hidup yang ada. Alasannya banyak. Biar tidak dikatakan kampungan, tidak mengikuti jaman, norak, anak kampung, tidak gaul, dan sindiran-sindiran lain. Kita lebih senang memperhatikan komentar orang lain tentang kita. Daripada kita menjalankan prinsip hidup yang kita punya.

Coba saja tanyakan kepada diri Anda sendiri. Perubahan apa dalam diri atau hidup Anda yang datang dari orang lain. Misalnya, kebiasaan merokok. Di awali dari orang lain yang menyarankan agar Anda merokok supaya diterima dalam kelompok. Pakaian juga seperti itu. Kebanyakan dari kebiasaan kita justru selalu di dorong dari orang lain bukan dari dalam diri kita sendiri. Kalau keadaannya sudah begini, tentu kita akan menjadi manusia yang tidak memiliki pendirian dan prinsip. Akibat dari sikap ini adalah kehancuran atau kesuraman hidup kita.

Bagaimana pun perubahan dari hidup kita yang kita alami, tetap harus ada yang tidak berubah yaitu diri kita sendiri. Harus tetap menjadi diri sendiri, setalah datang perubahan atau sebelum datang perubahan.

Ini pelajaran yang menarik dari sosok sederhana dan nyentrik, mbah Surip. Semoga saja kemampuan menjadi “keaslian” dirinya, bisa menginspirasi banyak orang lain, termasuk saya.

Terima kasih, mbah Surip…

Antisipasi Terorisme Melalui Modus

Pada tulisan sebelumnya, saya menuliskan bawah langkah antisipasi teror adalah dengan mengenali modus yang terus berubah. Secara jujur saya akui bahwa teroris itu pintar, begitu juga yang di katakan oleh polisi, bahwa kelompok teroris ini “smart” tapi kita tidak boleh kalah smartnya dengan mereka.

Sebelum membahas tentang modus, saya ingin mendahului tulisan ini dengan budaya atau kebiasaan kebanyakan dari masyarakat Indonesia. Memang bangsa Indonesia di kenal sebagai bangsa dengan adat kesopanan, penuh tata krama, dan mengayomi. Budaya ini memiliki nilai positif yang luarbiasa baik. Tapi justru, budaya inilah yang sering di manfaat oleh orang lain. Sebagai contoh, kalau kita meminjamkan uang kepada orang lain, bisa jadi orang itu masih ada kerabat dengan kita atau ia teman dekat kita sejak kecil. Apakah kita akan tetap tega menagih uang kita. Mungkin banyak di antara kita yang tidak enak untuk menagihnya. Benar toh…

Nah, kita balik lagi ke masalah teroris.

Para teroris itu, melihat sisi ini yang begitu lemah. Ini bukan berarti saya menganjurkan untuk menghilangkan budaya ketimuran bangsa ini. Tapi saya hanya ingin mengatakan bahwa budaya itu tetap di pertahankan tapi juga melihat budaya itu seharusnya di terapkan. Wah, untuk yang masalah ini saya tidak ingin membahasnya dulu.

Coba perhatikan Noordin M. Top. Ini kata berita, Noordin M. Top, memiliki istri di setiap persembunyiannya. Yang kemarin saja istrinya di nikahi secara sirri. Noordin M. Top menutup niat terornya dengan berbuat baik dengan warga di sekitar persembunyian, yaitu dengan cara menikahi gadis penduduk desa tersebut. Coba kita nilai terhadap sikap seorang laki-laki yang mau menikahi seorang anak gadis. Tentunya kita akan menganggap, laki-laki baik, bertanggun jawab, dan setia. Dor! Kita sudah masuk perangkapnya. Dengan kita memberi penilaian positif terhadap sikap itu, bisa jadi kita akan sulit mengatakan negatif kepadanya.

Bahasannya kok jadi serius begini…

Ok, kita langsung masuk ke modus teror. Ini hanya analisa dan pandangan saja yang sifatnya hanya mengantisipasi terjadinya bom lagi.

Modus yang dilakukan sudah berubah tiga kali. Kira-kira modus apa yang akan di lakukan lagi. Sepertinya jawabannya hanya teroris yang tahu. Tapi coba kita analisa berdasarkan kebiasaan sosial masyarakat kita.

Modus yang baru saja di lakukan adalah dengan menggunakan orang dalam. Mengapa? Orang dalam lebih aman membawa barang dalam paket besar tanpa di curigai sedikut pun. Bahkan tanpa melalui pemeriksaan yang detail. Hal ini juga di sampaikan oleh mantan Kandensus 88. Nah betul kan, bahwa adat kebiasaan kita begitu lemah.

Saran saya kepada hotel adalah instruksikan kepada para petugas hotel, berlaku untuk semua pegawai apalagi yang menggunakan jasa outsourching, tetap melakukan profesionalitas dalam tugas dengan baik dan total.

Yup, cukup dulu…